Tuesday, June 15, 2010
Monday, June 14, 2010
the trees and the wild
The Trees And The Wild
suka suka sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!
lagu2nya oke, personilnya juga oke boooooookkkk!!!! apalagi pokalisnya...hmmmmmmm... pengen gw lumat2!!! hahahahaha
Monday, May 17, 2010
How Do You Do???
Kenapa bukan how are you?? Kenapa malah how do you do??? Yak, karena gw udah lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget ga update blog yang antara ada dan tiada ini... Bukan ga niat tapi emang ga sempet ngurus... Secara gitu ya gw sibuk buk buk... Ahahahaha, sibuk apa coba??? Sibuk ga menentu aja, alias sibuk ga jelas, ga tau juga arahnya mau kemana.. Hahahaha...
See you in my next story... Ada cerita baru lho :P
See you in my next story... Ada cerita baru lho :P
Tuesday, February 23, 2010
Ayah Yang Tak Kukenal
Semilir angin meniup2 lembut pipiku, matahari bahkan bersinar begitu terang hingga suasana hatiku cerah ceria. Kuhela nafas panjangku setiap kali angin bertiup, sudah lama kulupakan kerinduanku pada ayahku. Ayah yang tak pernah kukenal sejak aku dilahirkan, ayah yang hanya dapat kubayangkan kasih dan sayangnya ketika aku memandangi ayah teman2ku. Aku hanya bisa memandangi fotonya yang sudah usang. Sewaktu kecil ibuku sering berkata kalau ayahku sedang bekerja di luar kota makanya ayah tidak bisa pulang ke rumah. Aku menanyakan keberadaan ayah setiap kali ada pembagian raport di sekolah. Aku ingin ayah yang mengambil raportku di sekolah, seperti teman2ku. Tapi itu tak pernah terjadi, ayah tak pernah kembali.
Aku semakin beranjak besar, kupingku seringkali merasa panas dengan omongan tetangga yang beredar seputar ayahku. Kata mereka ayahku sudah mati, kata mereka ayahku telah menikah lagi kata mereka ayahku masuk penjara, kata mereka ayahku menjadi seorang dukun sakti. Lalu, sebenarnya siapa yang harus kupercaya?
Aku bertanya2, kenapa ayah tak sekalipun pernah menjengukku, melihatku, anaknya. Aku sering sekali membayangkan ketika aku sedang dalam perjalanan pulang sekolah, ayah menghampiriku, mengajakku untuk pulang bersamanya, tapi itu tak pernah terjadi. Bahkan kadang aku berpikir, bagaimana kalau ada seorang lelaki menghampiriku dan mengaku sebagai ayahku lalu membawaku pergi? Aku tidak pernah mengenal wajahnya, aku hanya pernah melihatnya di sebuah foto usang yang gambarnya hampir pudar, itupun tak sengaja kutemukan di gudang.
Aku tak pernah mendapatkan apa2 darinya kecuali nama, Rara Putri, kata ibu itu nama yang diberikan ayahku ketika aku masih di dalam kandungan. Hanya nama pikirku, aku butuh lebih dari sekedar nama, meskipun nama itu akan selalu kusebut dan kugunakan sebagai identitas. Aku bahkan tidak menyukai nama pemeberian ayahku itu, entah kenapa ia memberikan nama itu padaku, nama yang aneh, apalagi kabarnya nama itu ada kaitanyya dengan kisah ratu pantai selatan. Aku tak pernah tahu apa maksud ayahku memberikan nama itu padaku. Aku sering menggunakan nama panggilan lain, aku hanya menggunakan nama itu untuk kepentingan yang bersifat administratif saja.
Aku masih ingat benar saat aku masih duduk di SD, semua teman2 bercerita tentang ayahnya, sementara aku hanya bisa diam, tak tahu ayahku siapa dan seperti apa, ditambah lagi ibuku tidak pernah menceritakan tentang ayah. Ibu tidak pernah memeberitahuku ayah sosok yang seperti apa. Wajar, jika akhirnya aku tidak pernah tahu makhluk bernama “ayah”. Ketika teman2ku bertanya dimana ayahku, aku selalu menjawab bahwa ayahku sedang berada di luar kota, sama seperti kata ibuku. Dan ketika mereka menanyakan kapan ayahku pulang, aku hanya bisa berkata tidak tahu.
Tapi itu dulu, waktu aku masih kecil dan bodoh. Dulu, aku sangat ingin bertemu dengannya, bertanya2 bagaimana rupanya, mirip seperti aku atau tidak, dan semua tanda tanya tentangnya ingin segera aku ketahui jawabannya. Menjelang duduk di SMP aku berjanji bahwa aku tidak ingin bertemu dengan siapapun itu, yang disebut2 sebagai ayahku, aku tidak pernah peduli, penantianku terlalu panjang kurasa, aku bosan menunggu. Toh, aku bisa hidup bahagia tanpa kehadiran seorang ayah, aku tetap bisa menjalani hidupku, dan aku sadar bahwa aku tak pernah sekalipun merindukannya, aku tak rindu karena kami tak pernah bertemu. Bagaimana mungkin merindukan seseorang yang tidak kukenal???
Bahkan ketika suatu hari aku dipertemukan dengan seorang laki2 yang katanya ayahku, aku bersikap datar bahkan dingin. Aku hanya seperti bertemu dengan orang baru lalu berkenalan dengannya, tidak lebih. Bahkan setelah pertemuan itu aku tidak merasakan apa2, aku bahkan tak memikirkannya sama sekali. Aku hanya bergumam dalam hati, “oh… Laki2 ini rupanya ayahku…” Setelah itu sudah, tidak ada apa2, aku bahkan tidak menanyakan mengapa ia melakukan ini semua padaku, pada ibuku, pada kami, aku hanya diam saja.
Aku berkata pada diriku, rasanya aku tidak butuh sosok ayah, aku cukup bahagia hidup bersama ibu saja. Malah aku pernah berpikir bahwa mungkin saja jika ayah bersama kami, hidupku tidak akan sebahagia sekarang, bisa saja ia merusak kebahagiaan yag kami punya. Ah sudahlah pikirku, aku keletihan memikirkannya. Mugkin dan sangat mungkin, saat ini saja ia bisa melepaskan tanggung jawabnya terhadap ibu dan aku, bukan tidak mungkin ia juga menjadi benalu jika harus hidup bersama kami. Sekali waktu aku membencinya tapi di waktu yang lain aku biasa saja. Aku merasa benci ketika dia kuanggap ayah tapi tak sekalipun pernah menjadi ayah untukku, dan aku bersikap biasa ketika aku menganggapnya bukan sebagai siapapun, hanya orang lain yang aku pikir tidak penting sama sekali. Aku hanya meminjam namanya saja sebagai nama kolom ayah yang harus kuisi untuk berbagai keperluan, tidak lebih.
Hingga hari ini, ibu dan aku hanya hidup berdua, ibu tidak pernah menikah lagi karena ibu tidak ingin aku punya ayah tiri, terlebih lagi ibu menganggap bahwa ayahku adalah satu2nya ayah bagiku meskipun tidak ada bersama kami. Aku tidak pernah menghalang2i ibu untuk menikah lagi, tapi ibu tidak pernah memikirkan hal itu. Ibu hanya ingin berjuang untukku katanya. Ibuku sering bilang kalau semua yang dilakukannya hanyalah untukku…
Kebahagiannya sudah pernah ia peroleh puluhan tahun yang lalu, saat ibuku masih tinggal di bawah atap orang tuanya, bersama saudara-saudaranya, memunguti kasih meluap yang karena tak cukup tertampung hingga harus tumpah. Pertemuan dengan ayahku juga menjadi satu kebahagiaan besar katanya, meskipun cuma sebentar, kata ibu itu sudah lebih dari cukup, setidaknya ibu pernah merasakannya. Dan kata ibu, akulah yang menjadi kebahagiaannya saat ini, satu-satunya bahkan.
Aku tidak pernah tahu kenapa ibu terlihat begitu menikmati hidupnya yang aku pikir tidak mudah, aku pernah berpikir apakah ibu tidak ingin seperti nenek dan kakek yang mengarungi hidup bersama sampai tua, bisa berkumpul dengan anak-anak yang banyak, tidak cuma satu orang seperti aku sekarang ini. Semua orang memiliki kebahagiaannya sendiri-sendiri katanya. Dan kebahagiaan bukanlah terletak pada apa yang kita peroleh tapi terletak pada suasananya, penyikapan atas apa yang kita peroleh, apapun itu bisa menjadi sebuah kebahagiaan untuk ibuku meskipun kebanyakan orang berkata bahwa apa yang menimpa ibuku merupakan sebuah duka yang dalam, ditinggalkan oleh suaminya dalam ketidakjelasan. Mungkin bukan tidak jelas, tapi ibu tidak mau memberitahukan pada orang-orang termasuk aku alasan ayah meniggalkan kami, entah selamanya atau tidak. Yang jelas, ayah tidak bersama kami sampai saat ini usiaku mulai menginjak 20 tahun. Waktu yang cukup lama bagi seorang ayah untuk meninggalkan anak dan istrinya yang entah dia cintai atau tidak.
Apapun menjadi kebahagiaan jika ibuku yang menerimanya, aku tidak tahu jika terjadi pada orang lain. Aku tidak pernah sekalipun melihat ibuku muram, ia hanya tersenyum dan tersenyum ketika tidak mendapati sesuatu sesuai dengan kehendaknya, termasuk kepergian ayah. Apa ibu menyembunyikan air matanya? Tapi dimana? Aku tidak pernah berhasil menemukannya padahal selama ini akulah yang hidup bersama ibuku. Bersamanya, aku jadi tidak megenal arti kesedihan dan kehilangan tapi aku takut kalau suatu hari aku kehilangan. Aku sadar kalau suatu hari aku akan hidup bersama orang lain, sama seperti ibuku dulu, mengikuti ayahku dan tak lagi hidup bersama keluarga yang membesarkan dan jelas-jelas mencintainya. Ibu lebih memilih hidup bersama orang yang dikenalnya sangat sebentar jika dibandingkan dengan keluarganya. Ibu memutuskan untuk merasakan kebahagiaan yang banyak dilihatnya terjadi pada orang lain dan ia ingin merasakannya juga. Dan akhirnya, tak lama setelah pernikahan dan ibu mengandungku, ayah pergi entah kemana. Ayah tak meninggalkan apapun bersama kami kecuali rumah kontrakan yang sudah ia lunasi selama satu tahun sejak pernikahannya dengan ibu. Ibuku tak pernah mengeluh, bahkan ketika keluarga besarnya meminta ibu untuk kembali ke tengah-tengah mereka, ibu menolaknya. Ibu bilang, ibu sudah memutuskan sesuatu dan ibu harus mempertanggungjawabkannya. Ibuku memilih untuk hidup terpisah dengan keluarga besarnya dan merawatku seorang diri. Sebulan sekali, kadang 2 bulan sekali, kami mengunjungi keluarga besar ibuku lalu pulang kembali ke rumah kami setelahnya.
Ibu menggunakan keahliannya untuk menghidupiku, ibu sangat pandai memasak, bahkan ibu menjadi yang paling pandai di tengah-tengah keluarganya. Ibu sangat sibuk dan berperan ganda untukku, menjadi ayah sekaligus menjadi ibu untukku. Ia tak kenal siang dan malam, bahkan kini ibu bisa memetik hasil jerih payah dan kesabarannya selama bertahun-tahun. Aku masih ingat dulu ketika aku masih berumur lima tahun, aku sering dibawa ibu berkeliling dengan sepedanya untuk menjajakan makanan. Dan kalau hari pasar ibuku berjualan di pasar, 3x dalam seminggu. Dulu aku masih tidak mengerti, aku hanya dibawa kemanapun ibu menjajakan dagangannya. Kalau ingat masa-masa itu, aku tentu menjadi sedih melihat ibuku. Ibuku hanya seorang gadis lulusan SMU dan 2 tahun setelah kelulusannya dilamar oleh seorang laki-laki yang baru dikenalnya. Usia yang sangat muda untuk menikah pikirku, terlebih lagi ditinggalkan oleh suaminya selamanya. Laki-laki berpendidikan itu meninggalkan ibu tanpa alasan, mungkin selama ia menempuh pendidikannya ia tak sempat belajar apa yang namanya peran dan tanggung jawab. Laki-laki itu kabarnya bergelar master ekonomi di usia yang sangat muda, 23 tahun kalau tidak salah dan wajar kalau ia tidak tahu apa namanya tanggung jawab karena kepalanya telah dipenuhi dengan teori-teori ekonomi yang hanya memikirkan keuntungan semata. Dan dia berhasil memperoleh keuntungan saat merebut hati dan menikahi ibuku. Sayangnya sang master yang kupikir pintar ternyata bodoh, ia bodoh karena meninggalkan aku dan ibuku, aku tidak peduli kalau menurut teori-teori yang dipelajarinya kami bukanlah sesuatu yang menguntungkan tapi menurutku ia kehilangan kebahagiaan yang tidak pernah akan terganti meskipun ia mengulanginya sekali lagi. Bisa saja, di tempat yang jauh, dia menikah lagi dan memiliki anak yang sangat manis tapi tetap saja rasanya tidak akan sama. Aku pikir seumur hidup ia akan dihantui perasaan yang tidak enak karena telah meinggalkan kami, entah disadari atau tidak.
Aku tidak pernah ingin menuntutnya, karena kupikir ia tak lagi berpikir sebagaimana seorang ayah dan suami pada umumnya. Ia hanya mengejar apa yang ia mau pikirku. Entah apa yang dicarinya di dunia ini aku pun tidak tahu. Kebahagiaan ibu ada dalam genggamannya dan ia menghilang dan pergi begitu saja. Aku hanya ingin bertanya satu alasan saja kenapa ia meninggalkan kami. Waktu kecil mungkin aku sangat sering menanyakannya pada ibu karena aku tidak mengerti apa-apa, karena aku tidak tahu kalau mungkin saja ibu bersedih kalau aku menanyakan laki-laki yang meninggalkannya. Ketika aku mulai besar dan sadar kalau ibuku tersakiti dengan keadaan ini, aku berhenti menanyakan dimana ayahku, aku berjanji pada diriku untuk tidak pernah menanyakannya lagi karena aku pun tidak tahu apakah ibuku tahu atau tidak alasan ayah meninggalkan kami. Kalupun ibu tahu, aku yakin bahwa tidak memberitahuku adalah sikap terbijak yang harus ia ambil.
Sunday, December 27, 2009
You're Only Lonely By JD Souther
When the world is ready to fall
On your little shoulders
And when you're feeling lonely and small
You need somebody there to hold you
You can call out my name
And when you're feeling lonely and small
You need somebody there to hold you
You can call out my name
When you're only lonely
Now, don't you ever be ashamed
Now, don't you ever be ashamed
You're only lonely
When you need somebody aroud
On the nights that try you
(remember) i was there when you were a queenH
And i'll be the last one there beside you
And i'll be the last one there beside you
So you can call out my name
When you're only lonely
Now, don't you ever be ashamed
You're only lonely
When the world is ready to fall
On your little shoulders
And when you're feeling lonely and small
You need somebody there to hold you
And when you're feeling lonely and small
You need somebody there to hold you
So don't you ever be ashamed
You're only lonely
Ah, you can call out my name
When you're only lonely
Ah, it's no crime darling
We've got lots of time
Ah, there's nothing wrong with you
Ah, there's nothing wrong with you
Darling, i get lonely too
So if you need me
So if you need me
All you gotta do is call me
You're only lonely
Diam
Oh God, apa ini???!! Aku terdiam karena dunia mendiamkanku tanpa alasan yang jelas. Salahkah aku jika kemudian bersangka-sangka atas kelakuan dunia terhadapku? Tentu, ini menjadi sebuah kewajaran pikirku… Aku ada dalam ketiadaan dalam pandangan mata dunia yang silau dengan desas desus keunggulan yang khawatir tersingkirkan. Aku tidak pernah sedikitpun berpikir untuk mengusik dunia di sekitarku. Jika memang tidak berkenan dengan keberadaanku, ya sudah, aku akan mengalah dalam diam, aku akan diam di sudut ruangku, biarkan saja sendiri tanpa dunia-dunia yang penuh dengan dinamika...
Monday, December 14, 2009
Pulau Narajas
Aku masih duduk di sini, sendiri, seperti waktu-waktu sebelumnya. Aku memandangi orang-orang yang berlalu lalang di sekitarku dengan tatapan tak bernyawa. Semua orang tampak sibuk dengan urusannya masing-masing. Aku menghela nafas panjangku, kuambil lagi secarik kertas dari dalam ranselku. Ada namaku di sana, ada sederet angka di sana, aku memandanginya lekat-lekat, terus dan terus kupandangi. Ini merupakan bukti yang harus aku tunjukkan saat aku pergi nanti. Kalau kuingat-ingat, perjuanganku untuk memperoleh secarik kertas itu tidaklah mudah, aku butuh waktu bertahun-tahun untuk memperolehnya, melewati serangkaian proses yang cukp panjang, tidak hanya membosankan tapi juga melelahkan. Kini, saat aku telah memperolehnya, ternyata tidak cukup mudah untuk menunjukkan secarik kertas itu sebagai suatu bukti, sebagai sesuatu yang dapat membuatku meninggalkan tempat ini, karena ini adalah sebuah persinggahan yang sejatinya hanya untuk waktu yang sangat sebentar disinggahi. Tapi tidak dengan aku, aku terlalu lama singgah di tempat ini. Aku malah tampak seperti penghuni tempat persinggahan ini. Aku telah melewatkan ratusan malam di tempat ini. Bukan waktu yang sebentar, bahkan terkadang aku ingin lari dan pergi saja dari tempat ini, tak mengapa kalau aku tidak jadi pergi ke Pulau Narajas yang diimpikan banyak orang selama ini, tak apa pikirku, karena dulu pun, ketika aku mulai mengurus keberangkatanku menuju pulau itu, bukan semata-mata keinginanku, keluargakulah yang mendorongku untuk pergi ke pulau itu. Kalau saja saudara perempuanku yang memintanya mungkin aku bisa menolaknya dengan mudah, tapi tidak dengan ibuku, perempuan yang berjuang mengorbankan seluruh hidup untuk anak-anaknya termasuk aku, aku tidak bisa menolaknya. Apalagi, diantara tiga bersaudara, hanya aku si bungsu yang mendapat kesempatan untuk pergi ke pulau itu, bahkan ketika aku pernah meminta untuk tidak kembali ke rumah setelah tiba di Pulau Narajas nanti, ibu mengabulkannya meski dengan sedikit berat hati. Aku mengatakan kalau aku ingin melanjutkan perjalanan menuju pulau lainnya, yaitu Pulau Semtar. Tapi Pulau Semtar tak menjadi prioritasku saat ini, aku hanya ingin tiba di Pulau Narajas dulu saja…
“Hei, apa yang sedang kau lakukan di sini?” seorang perempuan yang tampak lebih muda dariku datang menghampiri.
“Aku sedang menunggu pesawatku.” Aku menjawab sambil menoleh ke arah perempuan itu
“Sudah berapa lama kau menunggu di sini?”
“Sudah cukup lama, aku tidak ingat lagi kapan tepatnya”
“Bukankah kau adalah gadis yang mengurus keperluan perjalanan menuju Pulau Narajas beberapa waktu yang lalu?”
“Ya, kau tahu aku?”
“Tidak, aku tidak tahu. Aku hanya pernah tidak sengaja melihatmu ketika aku hendak menuju Pulau Narajas, sama sepertimu.”
Aku mengernyitkan dahiku… “Kalau memang kau juga mengurus keberangkatan menuju Pulau Narajas bersama denganku waktu itu, mengapa kau datang dari arah yang berlawanan denganku?”
“Aku telah kembali dari Pulau Narajas dan kini aku sedang mengurus keberangkatanku menuju ke Pulau Semtar”
Aku tercengang mendengar ucapan perempuan itu. Kami bahkan dalam waktu yang berdekatan mengurus keberangkatan menuju Pulau Narajas tapi kini ia telah kembali dan akan menuju Pulau Semtar, pulau yang juga mungkin akan menjadi tujuanku berikutnya setelah Pulau Narajas. Sementara aku? Aku masih sama di tempatku yang dulu, aku terjebak di bandara ini. Aku bisa saja keluar pikirku tapi itu tidak mungkin, yang paling memungkinkan adalah berharap bahwa pesawatku akan segera datang dan membawaku pergi menuju Pulau Narajas.
“Hei, apa kau sedang melamun nona?”
“Ah, tidak. Aku hanya… Ya, hanya sedang berpikir.” aku menjawab sembari menutupi keterkejutanku karena aku sedang bermain dengan pikiranku sendiri saat itu.
“Aku permisi nona, aku hanya tidak sengaja melewati tempat ini untuk mengambil tiket yang sudah kupesan. Ruang tungguku ada di sebelah sana, kau juga akan menunggu di sana jika suatu hari kau akan menuju Pulau Semtar.”
Perempuan itu berlalu dari hadapanku dan menuju ruang tunggunya. Ah, ia bahkan telah menuju Pulau Semtar saat ini padahal ia sepertinya setahu lebih muda dariku. Ya, aku dapat melihatnya.
“Hei, kita belum berkenalan nona. Aku Dendranamiazy Lanela.” Perempuan itu menyebutkan namanya sembari mengulurkan tangannya di hadapanku
“Aku Fatitabia Adoficansy” jawabku sambil menjabat tangan perempuan itu.
“Aku pergi dulu nona Adoficansy, mungkin pesawatku sebentar lagi datang. Semoga pesawatmu juga segera datang.”
Perempuan itu berlalu dari hadapanku, aku tersenyum sembari melambaikan tanganku. Ah, sedih sekali rasanya kalau aku harus membandingkan diriku dengan dirinya. Bahkan Pulau Narajaspun belum kuinjak sampai hari ini. Aku sengaja tidak bertanya kepada perempuan itu bagaimana rasanya berada di Pulau Narajas. Ah, tidak perlu pikirku. Aku bahkan bisa melihatnya dengan mudah pada layar yang ada di sekitar ruang tunggu ini. Ya, aku bisa melihatnya seperti sedang menonton televisi di rumahku sendiri. Aku bisa melihat pakaian yang dikenakan di pulau itu, pakaian khusus yang diwajibkan bagi siapapun yang berada di sana. Ah, merepotkan sekali pikirku. pakaian menjuntai dengan harga yang tidak murah terpaksa harus dikenakan, entah apa maksudnya aku pun tak tahu, entah siapa yang menjadi pendahulu dan menyepakati pakaian seperti itu yang harus dikenakan. Tak ada bedanya laki-laki ataupun perempuan, semua dikenai aturan yang sama. Bisa saja setiap orang memiliki gaya berpakaian mereka masing-masing dari tempat asal, tapi di Pulau Narajas, semua disamakan. Belum lagi ditambah dengan upacara yang memakan waktu hampir dua pertiga dari waktu yang diberikan selama di Pulau Narajas, entahlah apa itu upacara penyambutan atau upacara penghormatan aku pun tak tahu. Aku bahkan tidak menyukai itu semua tapi entah mengapa aku ingin sekali ke pulai itu. Entahlah, aku merasa aku sudah lebih dari separuh jalan menuju pulau itu, dan pasti akan sangat disayangkan kalau aku sampai mengurungkan niat untuk menuju pulau itu.
Aku kembali beranjak dari tempat dudukku, aku mulai bosan, aku ingin sedikit berjalan-jalan di sekitar bandara ini untuk melepas kejenuhanku. Aku mulai berjalan dan melihat dunia sekelilingku. Ah, aku sudah hafal benar dengan tempat ini. Bahkan mungkin jika aku diminta untuk mengelilinginya dengan mata tertutup dan tanpa tongkat, aku akan mampu melakukannya. Aku melepaskan pandanganku sembari menghela nafas panjang, hatiku seperti berdenting menghitung waktu, samapai kapan aku akan berada di tempat persinggahan ini? Kenapa singgah menjadi sesuatu yang sangat lama bagiku? Mungkin aku harus bersabar lagi dan lagi…
Lamunanku tiba-tiba saja buyar, ponselku berdering rupanya. ah, ibuku yang memanggil.
“Ya, ibu. Ini aku puterimu.”
“Apa kabarmu puteriku?”
“Aku baik ibu, ibu sendiri bagaimana?”
“Ibu juga baik.”
“Ada apa tiba-tiba ibu meneleponku?”
“Ah, tidak. Aku hanya ingin menanyakan keadaanmu puteriku”
“Oh…”
Aku seidikit lega saat ibu tidak mempertanyakan keberadaanku, ia tidak tahu kalau aku masih ada di tempat yang sama karena pesawat yang akan membawaku belum juga tiba. Tapi tidak kemudian…
“Puteriku, bagaimana perjalananmu? Kapan tepatnya kau akan tiba di Pulau Narajas?”
Aku seketika terdiam. Aku menitikkan air mataku, aku menarik nafas lebih panjang agar ibuku tidak tahu kalau aku sedang menangis di sini…
“Aku tidak tahu ibu…”
“Bagaimana mungkin kau tidak tahu? Bukankah kau memegang jadwal penerbangan pada tiket yang ada padamu?”
“Tidak ibu. Aku benar-benar tidak tahu. Segalanya dapat dengan mudah berubah. Dan itu di luar kekuasaanku. Aku bahkan telah bosan berada di tempat yang sama beratus-ratus malam lamanya. Kalau aku boleh meminta, aku ingin pulang ibu. Aku ingin kembali ke rumah, tempat aku merasa hidup tenang tanpa gundah”
Ibuku hanya terdiam mendengar kata-kataku…
“Ibu, aku sedang dalam kondisi tidak enak hati dan tidak enak pikiran di tempat yang begitu membosankan ini. Dengan ibu menanyakan hal seperti ini padaku, ibu telah menambah pikiran di kepalaku, kepalaku seperti akan pecah.”
“Tidak puteriku, ibu tidak bermaksud seperti itu. Jangan terlalu kau pikirkan kata-kata ibu tentang Pulau Narajas.”
“Tapi ibu, kau telah menanyakannya padaku. Aku tidak bisa menganggap seolah-olah kata-kata ibu tidak pernah ada, sudah terlanjur ibu, aku tidak bisa.”
“Dengarkan ibu puteriku, aku tidak pernah ingin membebanimu dengan pikiran yang bertambah-tambah. Ibu mungkin tidak pernah tahu kalau bebanmu terlalu berat di sana, ibu tidak pernah pergi ke Pulau Narajas puteriku. Bahkan diantara ketiga puteri yang kumiliki, hanya kaulah yang akan berangkat menuju pulau itu.”
“Tapi kau telah mengatakannya ibu…”
“Sudah puteriku, sudahlah Fatitabia Adoficansy…”
Aku terdiam dan mengakhiri percakapanku dengan ibuku. Aku kembali menghela nafas panjangku. Aku semakin merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Mungkin memang ibu tidak bermaksud membebaniku dengan mempertanyakan perjalananku menuju Pulau Narajas yang tak kunjung usai. Wajar kalau ibuku mempertanyakannya, sangat wajar. Ibuku hanya ingin mengetahui kabarku, keadaanku, dan karena aku sedang menempuh perjalanan menuju Pulau Narajas maka ibuku bertanya sudah sampai diaman perjalananku dan kapan aku akan tiba di pulau itu. Tidak ada yang salah, dan kau tidak salah ibu. Mungkin aku yang terlalu sensitif ketika disinggung mengenai Pulau Narajas, pulau yang tak kunjung aku pijak sampai hari ini…
Aku melangkah menuju ruang tunggu, kembali menatap tempat yang sudah kuhuni dalam waktu yang tidak sebentar, ratusan malam kuhabiskan di tempat itu, tempat yang kupikir nyaman dan kini telah membuatku bosan karena telah terlalu lama berada di dalamnya.
Dalam kekosongan tatapan, mataku menangkap sesuatu di papan pengumuman elektronik yang ada di hadapanku. Ah, aku mendapat pesan rupanya. Pesan yang disampaikan seorang teman yang juga menuju Pulau Narajas dan kini ia sedang berada di tempat transit yang pertama.
“Hei, Fatitabia Adoficansy! Mengapa kau masih berdiam diri di tempat yang sama? Lihat aku, Ondramartofo Kardoza, aku telah sampai pada tempat transit yang pertama. Apa kau merasa nyaman berlama-lama di tempat itu? Ayo, cepat kau susul aku!”
Aku benar-benar kaget mendapatkan pesan dalam bentuk video dari seorang teman. Perasaanku bercampur saat itu. Mungkin bagi orang lain apa yang dilakukan Kardoza dalah sesuatu yang dapat membangkitkan semangat untuk segera pergi meuju Pulau Narajas, tapi tidak bagiku. Aku bagai seorang yang hampir-hampir tidak kuat berdiri dengan kaki kecilku dan tiba-tiba dilempar batu yang tepat mengenai punggungku, aku limbung, keseimbangan tubuhku tak lagi terjaga. Aku jelas tidak suka dengan apa yang dilakukan Kardoza di hadapan banyak orang. Aku tidak tahu niat Kardoza yang sebenarnya, apakah ingin menyemangatiku atau memang ingin mempermalukanku di seluruh bandara ini. Yang jelas, aku semakin merasa terpuruk dalam penantian panjang yang melelahkan ini. Aku membenci Kardoza! Aku benci!
Aku berlari meninggalkan ruang tunggu, dadaku terasa begitu sesak. Di luar kulihat hujan turun deras, aku tidak peduli, aku menerjang hujan dan berlari. Mungkin aku seperti orang gila karena saat semua orang berdiam diri dan meneduh di dalam ruangan, aku malah keluar. Biar pikirku, mereka bukan aku, mereka tidak tahu apa yang aku rasakan, biarkan aku menikmati perjuanganku menuju Pulau Narajas dengan jalan seperti ini. Hujan ini bahkan membuatku menjadi seorang pembohog, aku menutupi air mataku dengan air hujan, aku berpura-pura tidak menangis padahal bisa jadi air mataku lebih deras dari pada air hujan yang sedang turun. Biarkan kupuaskan diriku menangis sampai aku lega, aku menangis bukan semata-mata karena video dari Kardoza, tapi aku menangisi keadaanku yang tertahan di tempat ini dan tidak beranjak kemanapun. Dan aku pun diam dalam hujan…
Aku kembali berjalan menuju ruang tunggu, kali ini langkahku sangat lambat dan tertatih, diriku letih, hatiku letih pikirku letih, perasaanku letih, aku letih…
Aku duduk, kembali menunggu, dan menunggu… Menunggu pesawat yang membawaku pergi ke Narajas…
Subscribe to:
Posts (Atom)






